Mori Hanafi Berharap Pengendali Banjir Dituntaskan, Sawah Warga Terancam Rusak

Tim/jendelaberita.co.id
TINJAU:Anggota Komisi V DPR RI H Mori Hanafi mengecek pembangunan pengendali banjir di Das

BIMA – Penanganan banjir di wilayah Kabupaten Bima menjadi perhatian serius Anggota Komisi V DPR RI, H Mori Hanafi. Dia turun langsung mengecek pembangunan infrastruktur pengendali banjir di Daerah Aliran Sungai (DAS) Pela Perado, Desa Simpasai, Kecamatan Monta, Kabupaten Bima, Selasa (3/11).

Dalam peninjauan tersebut, Mori menegaskan pembangunan pengendali banjir harus segera dituntaskan. Sebab, jika tidak ditangani secara menyeluruh, luapan sungai berpotensi merusak lahan persawahan milik warga.

Pada tahap pekerjaan yang ditinjau, pembangunan pengendali banjir DAS Pela Perado memiliki nilai anggaran sekitar Rp12 miliar. Namun, penanganan yang telah dilakukan belum mencakup seluruh kawasan rawan banjir. Masih terdapat sekitar tiga kilometer kawasan sungai yang membutuhkan penanganan lanjutan dengan kebutuhan anggaran yang diperkirakan lebih dari Rp12 miliar.

"Ini harus segera ditangani. Kalau tidak, sawah masyarakat bisa rusak akibat banjir. Jangan sampai pembangunan yang sudah dilakukan belum memberikan perlindungan secara maksimal bagi warga," tegas Mori.

Selain di DAS Pela Perado, Mori juga menyoroti pembangunan pengendali banjir di Sungai Sondosia-Mpuri, Kecamatan Madapangga. Pekerjaan sepanjang 1,1 kilometer dengan anggaran sekitar Rp12 miliar tersebut juga dinilai masih membutuhkan penanganan lanjutan.

Dalam kesempatan itu, masyarakat turut menyampaikan aspirasi terkait kebutuhan pembangunan jembatan untuk mendukung akses dan aktivitas warga.

Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Nusa Tenggara I, Antonius Suryono, mengatakan penanganan banjir sejalan dengan program pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan. Menurutnya, banjir bukan hanya persoalan infrastruktur, tetapi juga dapat menyebabkan kegagalan panen dan mengganggu produktivitas pertanian.

BWS, kata dia, tetap membuka ruang untuk mendengar dan mengakomodasi aspirasi masyarakat. Usulan pembangunan infrastruktur tambahan akan diperjuangkan melalui mekanisme perencanaan dan penganggaran yang tersedia.

"Kami tetap mendengar aspirasi masyarakat. Jika tersedia anggaran, tentu akan diakomodasi. Usulan-usulan ini juga tetap akan kami perjuangkan," ujarnya.

Antonius menjelaskan, dua titik pekerjaan yang ditinjau telah mencapai progres 100 persen. Meski demikian, dalam proses Provisional Hand Over (PHO) atau serah terima pertama pekerjaan, biasanya masih terdapat sejumlah catatan yang perlu disempurnakan.

Menurutnya, pekerjaan infrastruktur tetap membutuhkan evaluasi agar hasil pembangunan benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan kondisi di lapangan.

Dia mencontohkan penanganan Sungai Mpuri yang dilakukan terlebih dahulu pada sisi kiri karena kawasan tersebut berdekatan dengan permukiman warga. Penentuan prioritas pekerjaan mempertimbangkan tingkat kerawanan serta kebutuhan perlindungan masyarakat.

Antonius juga mengingatkan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam menjaga infrastruktur pengendali banjir yang telah dibangun. Warga diminta tidak merusak bangunan bronjong maupun membuang sampah di sepanjang aliran sungai.

"Kalau infrastrukturnya sudah dibangun, masyarakat juga harus ikut menjaga. Jangan sampai bronjong dirusak atau sungai dijadikan tempat membuang sampah. Infrastruktur ini dibangun untuk kepentingan bersama," pungkasnya. (Tim) 



Posting Komentar untuk "Mori Hanafi Berharap Pengendali Banjir Dituntaskan, Sawah Warga Terancam Rusak"